-->

Selain Avengers, Kerajaan Kediri juga Pernah Mengalami Civil War

Go1News.com-Di zaman dahulu kala, jauh sebelum masa penjajahan, Indonesia punya beberapa kerajaan. Keren kan? Ternyata kita nggak kalah juga ya sama Eropa. Nah, kerajaan-kerajaan ini berdiri karena adanya pengaruh dari masuknya agama Hindu dan Buddha ke Indonesia. Sama seperti drama serial tv dan kisah-kisah di Eropa, kalau kerajaannya ada banyak, pasti terjadi civil war.

sumber : lcc-abbeytravel.com
Hah, civil war??! Kayak Avengers gitu ya? Hmm, beda. Civil war  yang dimaksud sama sekali nggak kayak film Avengers yang pahlawannya bisa terbang dengan teknologi canggih. Civil war artinya adalah perang saudara, yaitu perang yang terjadi antarwarga sipil di satu wilayah yang sama untuk menguasai wilayah tersebut.


Loh, kenapa satu wilayah bisa saling perang? Biasanya karena ada yang nggak setuju dan nggak suka dengan pemerintahannya, makanya warga sipil saling melawan pemerintah untuk menguasai wilayahnya. Civil war juga bisa terjadi antarkeluarga yang sama-sama sedang memimpin pemerintahan yang berbeda.

Ibaratnya kayak berantem, tapi yang diperebutkan adalah takhta dan kekuasaan. Salah satu civil war di Indonesia yang paling dikenal saat era kerajaan Hindu-Buddha adalah antara Kerajaan Panjalu dan Kerajaan Jenggala.

Sebelum membahas bagaimana perang antara dua kerajaan ini bisa terjadi, yuk cari tahu dulu asal usul kerajaan di Indonesia.

Setelah masa manusia purba (praaksara) berakhir, agama Hindu dan Buddha mulai masuk ke Indonesia. Kedua agama tersebut berasal dari India, dan bisa masuk ke Indonesia berkat adanya hubungan perdagangan.


Berawal dari Raja Airlangga, yang saat itu memimpin Kerajaan Mataram Kuno menggantikan Dharmawangsa. Ketika tahun 1006 Kerajaan Mataram Kuno runtuh, Raja Airlangga memindahkan lokasinya dan mendirikan kerajaan baru bernama Kahuripan di Jawa Timur.

Kerajaan Kahuripan termasuk kerajaan yang makmur, karena terletak di tepi Sungai Brantas yang ramai dilewati jalur perdagangan. Wilayah kekuasaan kerajaan Kahuripan juga luas, hampir menguasai seluruh Jawa Timur.

Candi Belahan di Pasuruan Jawa Timur adalah salah satu peninggalan Raja Airlangga. (Sumber: indonesiakaya.com)
Raja Airlangga punya 2 putra, yaitu Samarawijaya dan Mapanji Grasakan. Tapi persaudaraan dari kedua putranya nggak kayak kakak-beradik pada umumnya

Sejak muda, Samarawijaya dan Mapanji Grasakan saling bersaing ingin memperebutkan takhta dan kekuasaan. Makanya, sesuai saran dari seorang Brahmana yang bernama Empu Bharada, Raja Airlangga akhirnya membagi wilayah kerajaannya jadi dua.

Raja Airlangga membagi wilayahnya jadi bagian barat dan timur. Di sebelah barat punya Samarawijaya dengan kerajaannya yaitu Kerajaan Panjalu.

Wilayah Kerajaan Panjalu meliputi daerah Kediri dan Madiun. Sedangkan di sebelah timur punya Mapanji Grasakan, dengan Janggala sebagai kerajaannya. Wilayah Kerajaan Janggala meliputi daerah Malang, Surabaya, Rembang, dan Pasuruan.

Yay, akhirnya damai dong! Eits, tunggu dulu. Walaupun wilayah udah dibagi-bagi dengan adil, Samarawijaya dan Mapanji Grasakan tetap berantem demi kekuasaan. Mereka maunya menguasai seluruh wilayah Jawa Timur.

Civil war pun akhirnya pecah antara Kerajaan Panjalu dan Kerajaan Janggala. Perang saudara berlangsung hampir 60 tahun lamanya, dan akhirnya perseteruan berakhir saat Kerajaan Panjalu berhasil memenangkan perang. Saat itu Kerajaan Panjalu dipimpin oleh Raja Jayabaya.

Raja Jayabaya adalah sosok pemimpin yang paling populer pada masanya. Ia sangat dikenang karena memberikan masa emas dan kemakmuran bagi Kerajaan Panjalu. Salah satu bukti kemakmurannya ada di prasasti Ngantang.


Isi dari prasasti Ngantang adalah Panjalu Jayati, yang berarti “Panjalu menang”. Selain itu, ia juga ahli politik yang handal, mengeluarkan Jongko Joyoboyo (ramalan Jawa) yang terkenal, dan aktif dalam karya budaya seperti sastra.

Contoh sastra yang sangat terkenal adalah Kitab Bharatayuda karya Empu Sedah dan Empu Panuluh, yang ditulis atas perintah dari Raja Jayabaya. Sastra Jawa kuno ini berisi cerita kemenangan Kerajaan Panjalu (Kediri) atas Kerajaan Janggala.

Salah satu peninggalan dari pemerintahan Raja Jayabaya, Kitab Bharatayuda. Sumber: harvardartmuseum.org

Setelah kemenangan Kerajaan Panjalu, ibu kota Kerajaan Panjalu pindah dari Dahanapura ke Kediri. Sejak saat itu, Kerajaan Panjalu lebih dikenal dengan nama Kerajaan Kediri.


Raja Jayabaya masih memimpin saat Kerajaan Kediri berdiri. Kemakmuran terus berlanjut dengan kegiatan ekonomi yang maju. Perekonomian Kerajaan Kediri bersumber dari pertanian, pelayaran, dan perdagangan. Hasil yang diperdagangkan adalah emas, perak, gading, kayu cendana, dan beras.

Setelah Raja Jayabaya, kepemimpinan dilanjutkan oleh Sarwewara, Gandara, Kameswara, dan Kertajaya. Kertajaya sebagai raja terakhir di Kerajaan Kediri juga cukup dikenal, tapi bukan karena membawa kemakmuran seperti Raja Jayabaya ya. Di masa kepemimpinan Raja Kertajaya lah Kerajaan Kediri mulai runtuh.



Kerajaan Kediri runtuh karena ada konflik internal di dalam pemerintahannya. Saat itu Raja Kertajaya menentang ajaran Hindu dengan meminta kaum Brahmana untuk menyembahnya seperti dewa.

Ia ingin disembah karena percaya bahwa dirinya sangat sakti, hingga mampu duduk bersila di atas tombak tajam yang berdiri tanpa luka sedikitpun. Ia juga sesumbar (pamer) kalau dirinya hanya mampu dikalahkan oleh Dewa Siwa, salah satu dewa di antara tiga dewa utama dalam agama Hindu (Trimurti).

Raja Kertajaya mengancam akan membunuh siapapun yang tidak menyembahnya. Kaum Brahmana sangat menentang ancamannya, dan akhirnya meminta tolong Ken Arok, seorang penguasa dari Tumapel (daerah yang berada di bawah kekuasaan Kediri). Berhubung Ken Arok berambisi untuk menguasai wilayah Jawa Timur, ia setuju saat diminta tolong oleh kaum Brahamana.

Akhirnya Raja Kertajaya melawan pasukan Tumapel di desa Ganter pada abad ke-13, yang dikenal dengan Pertempuran Ganter. Pertempuran dimenangkan oleh Ken Arok, dan di tahun 1222 ia mendirikan kerajaan baru yaitu Kerajaan Singasari.

Jadi, itulah sekilas cerita tentang perang saudara saat era kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia. Menarik kan? Ternyata zaman dulu itu pada dendaman ya orang-orangnya, jangan ditiru ya teman-teman! Cerita ini juga cuman sedikit kalau dibandingin sama cerita-cerita sejarah lainnya, dan sejarah Indonesia itu banyaaak banget.

Jadi kalian harus benar-benar fokus belajar supaya paham. Biar makin paham sama pelajaran Sejarah, yuk gabung di ruangbelajar! Nanti bisa belajar dengan video animasi yang menarik, nggak bosenin, dan gampang dipahami.

Untuk memahami materi tersebut, silahkan kerjakan tugas di bawah ini ?
  • Bagaiamana pendapatmu tentang perang saudara antara Kerajaan Panjalu dan Kerajaan Janggala?
  • Sebutkan minimal 2 nama kerjaan Hindu Buddha yang pernah ada di Indonesia beserta sejarah singkatnya ya !
Selamat belajar, semoga memahami materi ini dengan benar dan dapat mengambil pelajaran dari sejarah yang terjadi (RG)


LihatTutupKomentar