-->

Ilmuan Sebut Beberapa Jenis Virus Corona Baru Di Kelelawar


Jakarta, GO1news - Sebagian besar penyakit paling mematikan di muka bumi biasanya berasal dari hewan yang kemudian berpindah ke manusia. Pandemi flu tahun 1918 kemungkinan berasal dari burung.

HIV kemungkinan berasal dari virus serupa pada simpanse atau monyet lainnya. Wabah Ebola kemungkinan muncul dari kelelawar, tikus, dan gorila.

Kini muncul pandemi virus corona (SARS-CoV-2) yang menyebabkan penyakit COVID-19. Virus SARS-CoV-2 dari kelompok coronavirus yang sudah menewaskan 114 ribu manusia secara global ini diyakini berasal dari hewan kelelawar.

Para peneliti yang tergabung dalam Predict, program yang didanai pemerintah, tepatnya oleh Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID), mensurvei berbagai kelelawar di Myanmar guna mengidentifikasi penyakit menular yang berpotensi melompat dari hewan ke manusia.

Dikabarkan kini mereka sudah menemukan enam jenis virus corona baru yang mengintai hewan kelelawar yang bermukim di negara tersebut.

Walaupun masih berada dalam keluarga yang sama dengan virus SARS-CoV-2, para peneliti mengatakan virus-virus baru tersebut tidak terkait erat secara genetik dengan virus yang menyebabkan penyakit COVID-19, sindrom pernapasan akut berat (SARS), maupun Sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS).

Sejak 2016 hingga 2018, para peneliti mengumpulkan ratusan sampel air liur dan guano (atau kotoran kelelawar) dari 464 kelelawar yang terbagi 11 spesies berbeda dari tiga lokasi berbeda di Myanmar.

Lokasi-lokasi tersebut biasanya menjadi tempat manusia melakukan kontak dekat dengan satwa liar karena perubahan penggunaan lahan dan kegiatan rekreasi dan budaya, seperti panen guano untuk pupuk.

"Dua dari lokasi tersebut menampilkan sistem gua yang populer, di mana orang-orang secara rutin terpapar kelelawar melalui panen guano, praktik keagamaan, dan ekowisata," tulis para peneliti dalam studi yang diterbitkan pada 9 April dalam jurnal PLOS ONE, dikutip dari Live Science.

Mereka menganalisis urutan genetik dari sampel tersebut, dan membandingkannya dengan genom virus corona yang sudah ada kini. Virus baru ditemukan pada tiga spesies kelelawar. Spesies kelelawar rumah kuning Asia Raya (Scotophilus heathii) diyakini sebagai pembawa virus PREDICT-CoV-90.

Selanjutnya ada kelelawar berekor bebas keriput (Chaerephon plicatus), yang menjadi tuan rumah bagi dua virus PREDICT-CoV-47 dan -82. Terakhir ada kelelawar berhidung daun Horsfield (Hipposideros larvatus) yang membawa tiga jenis virus; PREDICT-CoV-92, -93 dan -96.

Lebih lanjut, para peneliti masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memahami potensi keenam virus baru tersebut jika berpindah dari hewan ke manusia, dan dampak yang akan ditimbulkan nantinya.

"Banyak coronavirus mungkin tidak menimbulkan risiko bagi manusia, tetapi ketika kami mengidentifikasi penyakit ini sejak dini pada hewan, pada sumbernya, kami memiliki peluang berharga untuk menyelidiki potensi ancaman," ujar rekan penulis studi Suzan Murray, direktur Program Kesehatan Global Smithsonian dalam sebuah pernyataan.

"Pengawasan, penelitian, dan pendidikan yang waspada adalah alat terbaik yang kami miliki untuk mencegah pandemi sebelum terjadi," lanjutnya.
Sayangnya, kini kontak antara manusia dan satwa liar menjadi semakin lazim. Hal ini ditekankan oleh ketua penulis penelitian Marc Valitutto, yang merupakan mantan dokter hewan satwa liar di Program Kesehatan Global Smithsonian.

"Manusia berinteraksi dengan satwa liar dengan frekuensi yang semakin meningkat. Jadi semakin kita mengerti tentang virus ini pada hewan, apa yang memungkinkan mereka untuk bermutasi dan bagaimana mereka menyebar ke spesies lain, semakin baik kita dapat mengurangi potensi pandemi mereka," tukas Valitutto.

Virus SARS-CoV-2 sendiri berasal dari Wuhan, ibu kota provinsi Hubei di China Daratan sejak Desember 2019. Hingga kini, penyakit COVID-19 sudah menjangkit 1.856.831 orang secara global, dengan 114.312 kasus kematian, dan 428.277 kasus berhasil sembuh per Senin (13/4/2020), menurut data Worldometers.CNBC

LihatTutupKomentar